Malaysia mengatakan Indonesia telah meminta maaf atas dugaan penculikan lima penebang di daerah perbatasan
KUCHING: Pemerintah Indonesia telah meminta maaf setelah pihak militer menahan lima sandera Malaysia di dekat perbatasan Sarawak-Kalimantan karena dituduh mencuri kayu, kata Putrajaya.
Menurut sebuah laporan oleh New Straits Times, wakil menteri luar negeri Malaysia Marzuki Yahya mengatakan pemerintah Indonesia telah mengakui bahwa tentaranya salah.
"Kami (pemerintah Malaysia) telah mengambil tindakan tegas terhadap apa yang terjadi ketika kami mengirim catatan protes mengenai masalah ini," katanya seperti dikutip oleh New Straits Times, Minggu (23 Desember).
"Indonesia telah mengakui kesalahan mereka dan mereka menyambut pengingat kami untuk memastikan bahwa itu tidak akan terjadi lagi," katanya.
Wakil menteri menambahkan bahwa pemerintah Malaysia menghargai tanggapan positif Indonesia mengenai masalah ini.
Menimbang masalah ini, menteri pertahanan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan kerjasama militer bilateral tidak akan terancam oleh insiden itu.
“Insiden itu tidak berpengaruh pada hubungan kita. Hubungan kami dengan Indonesia dekat. Semua masalah bisa diselesaikan di meja perundingan, ”katanya seperti dikutip New Straits Times.
Jumat lalu, Malaysia mengirim nota protes ke Jakarta mengecam penganiayaan dan penahanan warganya oleh pasukan keamanan Indonesia.
Wisma Putra menggambarkan insiden itu sebagai "perambahan, penahanan yang melanggar hukum dan penyalahgunaan warga negara Malaysia".
Pada 12 Desember, polisi Sarawak menerima laporan terkait dugaan penculikan oleh anggota Tentara Nasional Indonesia di hutan Wong Rangkai dekat perbatasan Sarawak-Kalimantan.
Kelima, berusia antara 15 dan 64, sedang memanen kayu 400m dari perbatasan pada 11 Desember.
Para penebang dilaporkan ditahan oleh beberapa pria bersenjata yang mengenakan seragam militer.
Mereka dipaksa untuk berkendara melintasi perbatasan Kalimantan ke pos komando Indonesia di Sungei Enteli.
Para prajurit itu diduga mengancam akan menembak orang Malaysia. Pada satu titik, seorang tentara dikatakan telah menembakkan dua peluru dari senapannya untuk menakuti para korban.
Tebusan dilaporkan menuntut pembebasan mereka.
Kelompok itu dibebaskan pada hari berikutnya setelah negosiasi yang sulit antara komandan Brigade Infanteri Malaysia Ketiga dan seorang perwakilan militer dari konsulat jenderal Indonesia di Sarawak.
Sementara itu, setelah laporan polisi yang diajukan oleh mereka yang disandera, komisioner polisi Malaysia Azman Yusof mengatakan pihak berwenang sekarang menunggu laporan investigasi yang dilakukan oleh Sarawak Land and Survey Department.
"Temuan ini untuk memastikan apakah kelima orang ini telah melakukan kegiatan penebangan pohon di sisi perbatasan Malaysia atau Indonesia dan diperkirakan akan diketahui dalam beberapa hari ke depan," katanya kepada Bernama, Minggu.
Source : http://koranasiakita.blogspot.com



No comments